Dialog FKUB DKI MGR. SUHARYO: ”PERLU ADA INGATAN BERSAMA”

Dialog FKUB DKI MGR. SUHARYO: ”PERLU ADA INGATAN BERSAMA”

24
0
SHARE

Waktu baru menunjukkan hampir jam 9.30 pagi pada 16 April 2016 lalu. Tetapi  ruang aula Sekolah Tarsisius Kemakmuran, Jakarta Barat sudah ramai pengunjung. Padahal acara dialog dan doa bersama bertitel: “Persaudaraan Sejati Antar Umat Beragama Dalam Mengamalkan Pancasila Untuk Jakarta Damai” baru akan dimulai pukul 10.00 WIB. Ini ujud dari antusiasme para peserta untuk menghadiri acara yang dirancang bersama Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI (FKUB DKI) dan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ini. Para peserta adalah perwakilan dari pimpinan FKUB DKI maupun wilayah-wilayah, Majelis Agama-agama, para alumni Sekolah Agama-agama dan Bina Perdamaian (SABDA) angkatan I hingga III yang berjumlah kurang lebih 220 orang.

Tepat pukul 10 acara dialog dimulai. Tampil sebagai narasumber utama adalah Mgr. I. Suharyo, Uskup Agung Jakarta (sekaligus tuan rumah yang dipercayakannya ke paroki Bunda Hati Kudus, Kemakmuran). Kemudian penanggap adalah Ketua FKUB DKI Prof. Kiyai Ahmad Syafi’i Mufid,  Kadin Depag Abdurrahman serta perwakilan Kabiro Dikmental Hendarto dan perwakilan Kakesbangpol Benny. Selain penanggap yang duduk satu meja di pentas bersama Mgr. Suharyo ada penanggap lain yaitu perwakilan dari Majelis Agama-agama.

Penanam Pohon Perdamaian di halaman Gereja Bunda Hati Kudus Kemakmuran oleh Para Perwakilan Majelis agama.
Penanam Pohon Perdamaian di halaman Gereja Bunda Hati Kudus Kemakmuran oleh Para Perwakilan Majelis agama.

Dalam paparannya Mgr. Suharyo menyitir sejarah pembebasan umat Allah dari perbudakan yang dipimpin oleh Musa. Kisah pembebasan yang dimuat dalam Kitab Keluaran Perjanjian Lama dinyatakan oleh uskup wajib dibacakan setiap perayaan Paskah katolik. Sebab menurut Mgr. Suharyo kisah ini bukan sekedar sejarah masa lampau tetapi juga merupakan :”Ingatan Bersama” dari nenek moyang yang diceritakan secara turun temurun. Apa maksudnya? “Kisah pembebasan ini merupakan identitas dasar umat Allah sekaligus berfungsi sebagai sumber kekuatan umat Allah dalam menghadapi berbagai persoalan, tantangan  dan permasalahan hidup,” tandas Mgr. Suharyo. Ingatan bersama adalah sebuah ungkap teknis yang juga bisa diartikan sebagai pengikat kebersamaan umat Allah dalam menuju pembebasan.

Nah, lanjut Mgr. Suharyo,  bangsa kita Indonesia juga memiliki “ingatan bersama” yaitu hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. “Ini hanya merupakan puncak dari seluruh perjuangan dan proses yang sangat lama. Untuk lebih ringkas saya mulai saja dari 1908 yaitu lahirnya Budi Utomo yang kemudian diabadikan menjadi hari kebangkitan nasional Indonesia. Pada saat itu penjajah mengijinkan anak bangsa ini studi lanjut. Dalam kesempatan itu mereka mulai berdialog, berdiskusi yang memunculkan lahirnya nasionalisme baru oleh Dowes Dekker,” ungkap Mgr. Suharyo.

Ketua FKUB DKI Prof. Kiyai Ahmad Syafi’I Mufid memberikan buku hasil dialog antarumat beragama kepada Mgr. Ign. Suharyo, usai dialog.
Ketua FKUB DKI Prof. Kiyai Ahmad Syafi’I Mufid memberikan buku hasil dialog antarumat beragama kepada Mgr. Ign. Suharyo, usai dialog.

Kemudian aksi ini berlanjut hingga pada 1928 melahirkan semangat kebersamaan yaitu mengikrarkan Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Akhirnya puncaknya adalah Proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 yang sebelumnya diawali dengan melahirkan Pancasila 1 Juni 1945. “Disini ada semangat ingatan bersama yang menjadi kekuatan dan identitas dasar bangsa Indonesia. Sama seperti ingatan bersama dan identitas dasar umat Allah. Inilah konsep iman yang kami terjemahkan dalam hidup berbangsa dan bernegara serta mengamalkan Pancasila,” tegas Mgr. Suharyo.

Bagaimana umat KAJ mengejawantahkannya? Lambang KAJ adalah : Hendaklah kamu murah hati seperti Bapamu murah hati adanya. “Untuk lima tahun ke depan (2016-2020) kami jabarkan lebih kongkrit dalam memaknai nilai-nilai Pancasila dan pesan-pesannya yaitu : Kerahiman Allah Memerdekakan. Amalkan Pancasila. Secara kongkrit kami akan melakukan doa Rosario dengan menggunakan Rosario Merah-Putih yang akan dimulai dan diluncurkan pada  1 Mei 2016,” jelas Mgr. Suharyo. Semua Rosario terdiri dari 50 manik-manik yang dibagi dalam lima kelompok masing-masing 10. Tiap kesepuluhan Rosario itu akan direnungkan sila-sila Pancasila. “Selain itu kami juga sedang mempersiapkan sebuah lagu Pancasila Rumah Kita, Pancasila Cinta Kasih. Lagu ini akan juga dibagikan ke sekolah-sekolah katolik agar menjadi gerekan bersama meujudkan nilai-nilai Pancasila,” harapa Mgr. Suharyo.

Pelepasan Merpati Perdamaian oleh para Perwakilan Majelis Agama-agama
Pelepasan Merpati Perdamaian oleh para Perwakilan Majelis Agama-agama

Mgr. Suharyo juga menjelaskan bahwa program 5 tahun ke depan ini adalah lanjutan dari program lima tahun lalu yang dirumuskan : Semakin beriman, semakin bersaudara dan semakin berbelarasa. Iman yang benar akan melahirkan persaudaraan sejati. Persaudaraan sejati membuahkan confession atau belarasa. “Rumusan ini kemudian diperkaya dengan nilai-nilai Pancasila untuk kami ujudkan dalam karya-karya kongkrit selama 5 tahun ke depan,” lanjutnya.

Menanggapi paparan Mgr. Suharyo ini, Ketua FKUB DKI Prof Kiyai Ahmad Syafi’I Mufid mengatakan sangat terkesan dengan persaudaraan sejati yang diungkapkan oleh Mgr. Suharyo. “Persaudaraan sejati itu hanya bisa kita ujudkan antarumat beragama kalau kita terus menerus membangun dialog. Saya semakin optimis bahwa dialog seperti  ini akan semakin bergaung yang telah kita mulai sejak 2012 lalu dan hasilnya kita bukukan agar dapat diikuti oleh semua pihak,” lanjut Syafi’i.

Kiyai Syafi’i menandaskan bahwa sejarah telah juga membuktikan bahwa toleransi dan persaudaraan sejati telah meujudkan NKRI saat ini. “Sumpah pemuda yang dilansir Mgr. Suharyo tadi dilahirkan oleh tokoh-tokoh pemuda dari berbagai suku dan agama. Sumbagnan besar telah diberikan oleh katolik yaitu Gedung Sumpah Pemuda saat ini adalah milik katolik yang disumbangkan menjadi asset Negara. Demikian juga isi Sumpah Pemuda yang awalnya dalam konsep Muhamad Yamin Berbahasa Satu Bahasa Melayu. Tetapi oleh anak muda Betawai Muhammad Tabrani diminta diganti menjadi Berbahasa SAtu Bahasa Indonesia. Ketika dikatakan bahwa tidak ada Bahasa Indonesia, M. Tabrani justeru mengusulkan agar pemuda membuatnya,” ungkap Kiyai Syafii. Lebih jauh Kiyai Syafii mengatakan bahwa bangsa ini telah lahir jauh sebelum proklamasi oleh kelompok-kelompok agama dan suku. “Peran penting kelompok agama dalam merumuskan Pancasila juga sangat besar. Mereka tidak merumuskan  Pancasila atas dasar agama. Ini pengorbanan yang sangat besar dari para tokoh agama,” tandas Kiyai Syafii.

Doa bersama untuk kedamaian Jakarta oleh para perwakilan agama-agama
Doa bersama untuk kedamaian Jakarta oleh para perwakilan agama-agama

Kyai Syafii berharap peran tokoh agama itu akan tetap tampil kini dan dimasa yang akan dating. “Kalau Katolik sudah coba membuat Rosario Merah Putih, ke depan kita harapkan dialog seperti ini akan terus berkesinambungan untuk mengatasi kebuntuan dan masalah bangsa ini. Terutama yang menjadi masalah besar saat ini yang disebut extraordinary crime adalah korupsi, narkoba dan terorisme. Kita harus bergandeng tangan mengatasi hal ini,” harap Kyai Syafii.

Kyai Syafii juga menceritakan bahwa pada 2015 lalu di bawah Tugu Proklamasi Bung Karno dan Bung Hatta kita kembali meneguhkan komitmen kebangsaan kita. “Ini juga akan kita ujudkan lewat program pencetakan kader-kader perdamaian melalui program SABDA. Kini telah kita lakukan hingga angkatan ke-3 dan semua Majelis Agama mendukungnya. Kalau kita bisa berdamai akan muncul persaudaraan sejati itu,” lanjutnya.

Abdurrahman, Kakanwil Depag pun sangat menyambut baik upaya para pemuka agama dalam menciptakan persaudaraan sejati yang merupakan ujud dari toleransi. “Sebagai pemerintah kami akan tetap mendukung dan memasilitasi  apa yang dilakukan oleh pemuka agama dan FKUB DKI terutama di grassroot. Yang pasti Pancasila itu sudah final. Sehingga kami menjamin setiap umat beragama bebas melaksanakan ajaran agamanya dan semua memiliki kesempatan yang sama. Kita boleh berbeda aliran politik dan pilihan tetapi semangat persaudaraan kita harus tetap kita jaga,” tandasnya.

Sonar Sihombing

Pengurus Komisi Komsos KAJ

NO COMMENTS