Paroki Harus Memanfaatkan  FKUB

Paroki Harus Memanfaatkan  FKUB

21
0
SHARE
Rm. Antonius Suyadi, Pr (kiri) Perwakilan KAJ di FKUB Provinsi DKI Jakarta.
Rm. Antonius Suyadi, Pr (kiri) Perwakilan KAJ di FKUB Provinsi DKI Jakarta.

 

Dalam pertemuan anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan Komisi HAAK KAJ dan HAAK Paroki pada 23 Juli 2015 di Katedral Jakarta Rm. Antonius Suyadi, Pr selaku perwakilan KAJ di FKUB Provinsi DKI Jakarta menghimbau agar setiap paroki di KAJ memanfaatkan FKUB.  Secara khusus dia meminta agar para pegiat di seksi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) paroki menjalin kerjasama dengan perwakilan FKUB KAJ di wilayah masing-masing. “Di setiap wilayah FKUB DKI Jakarta, KAJ telah menetapkan perwakilannya. Diharapkan masing-masing paroki berkoordinasi dengan mereka sesuai dengan wilayah masing-masing. Sebab perwakilan di wilayah FKUB ini adalah sekaligus perwakilan KAJ,” tandas Rm. Suyadi.

Lebih jelasnya Rm. Suyadi mengatakan kalau ada kegiatan HAAK di paroki atau dekenat silahkan mengundang perwakilan KAJ di FKUB di wilayah masing-masing. “Hal ini akan lebih memperlancar komunikasi dan informasi antara gereja dengan FKUB sekaligus bagian dari koordinasi pegiat kemasyarakatan kita,” lanjut Rm. Suyadi.

Rm.Suyadi juga menginformasikan bahwa KAJ saat ini sedang membentuk Tim Pembangunan KAJ. Beberapa diantara anggota  tim itu adalah perwakilan KAJ di FKUB. “Memang tim ini belum selesai pembentukannya tetapi sudah bekerja keras membantu beberapa paroki dalam pengurusan perijinan seperti Paroki Kampung Duri, Paroki MKK, Paroki Cileduk dan Wisma Samadi,” lanjut Rm. Suyadi.

Lewat koordinasi tiap wilayah akan memudahkan kita untuk menggalang langkah-langkah kongkrit membangun hubungan baik dengan pihak-pihak lain.  Seperti dalam memberikan penjelasan prinsip-prinsip umum Katolik sehingga pihak lain semakin mengenali siapa Katolik itu. Dengan pengenalan itu tidak ada muncul lagi saling curiga seperti isu katolikisasi. “Misalnya menjadi Katolik itu sangat susah harus belajar satu tahun dan harus lulus. Atau menyumbang orang miskin adalah kewajiban gereja dengan menyisihkan sebagian dana gereja dan gereja tidak pelit. Atau menjawab mengapa gereja Katolik bagus-bagus, karena umat maunya tempat beribadatnya bagus. Untuk itu dilakukan kolekte setiap ibadat bahkan tiap keluarga dibebani dana pembangunannya…dst,” jelas Rm. Suyadi.

Bahkan menurut Bambang Winarso, perwakilan KAJ di FKUB Jakarta Utara mengatakan sangat perlu menjalin hubungan dengan semua pihak. Dengan demikian kita bisa menjelaskan berbagai kegiatan di lingkungan dan bukan di gereja. Seperti latihan koor yang akan dibawakan di gereja, doa untuk orang meninggal seperti tahlilan, doa syukuran ulang tahun, pemberkatan rumah, kegiatan di bulan tertentu seperti Rosario di bulan Maria.

Hingga kini masih ada penolakan kehadiran gereja di 12 lokasi. “Dan tiga diantaranya adalah gereja katolik KAJ yaitu Gereja Damai Kristus, Jl. Duri Selatan V (Jakarta Barat), Gereja St. Bernadet, Jl. Matahari Pinang dan Gereja Stanislaus Kostka (Kranggan Bekasi),” ungkap Rudy, perwakilan KAJ di FKUB bersama Rm. Suyadi.

Dalam kesempatan ini juga Rm. Suyadi menyampaikan hasil pertemuan FKUB Provinsi DKI Jakarta dengan Kapolda Metro Jaya dan Kodam Jaya yang juga dihadiri ormas-ormas garis keras seperti FPI, FBR, Forkabi pada 21 Juli 2015 lalu di Polda Metro Jaya. “Kita tak perlu membuat suasana makin riuh. Biarkan saja pejabat di Papua menyelesaikannya. Karena kalau suasana makin panas akan ada pihak-pihak yang memperkeruh suasana. Sehingga akhirnya masalah ini  dibawa ke sidang PBB dan ini berbahaya buat NKRI. Boleh jadi Papua akan lepas dari Indonesia. Jadi permasalahan ini bukan hanya tampak di permukaan tetapi ada lagi di balik itu,” ungkap Rm. Suyadi mengutip pernyataan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian, mantan kapolda Papua.

Pernyataan Tito ini tampaknya menyadarkan  semua pihak sehingga semua bersepakat untuk menjaga kesatuan NKRI dengan tidak memperkeruh suasana. Kelompok-kelompok berkepentingan tidak akan berlomba-lomba mengirimkan utusan ke Papua.

Selain bertemu dengan Kapolda Metro Jaya dan Kodam Jaya, FKUB juga bertemu dengan pihak BIN Daerah DKI Jakarta di Hotel Kartika Chandra, Jakarta. Pihak BIN DKI Jakarta menjelaskan kejadian di Tolikara dan langkah-langkah mengantisipasi agar tidak merembet ke Jakarta.

Sementra itu Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo dengan tegas mengatakan bahwa yang tahu persis mengenai seluruh informasi Tolikara adalah Keuskupan Papua. “Hendaknya umat juga menahan diri untuk tidak ikut-ikutan memberi opini. Kita percayakan seluruhnya ke Keuskupan Papua,” himbaunya.

 

Sonar Sihombing

Sie HAAK Paroki St. Perawan Maria Ratu (Blok Q) Jakarta.

 

NO COMMENTS